Author Contact Me Disclaimer

Welcome! Click the box above for more info. :) Enjoy your stay!

Follow Me!!


Memories



Newer Posts || Older Posts

Leave A Message?

Credits
A Round of Applause to the following
Designer: Cynna
Image: Cyworld KR
Host: Blogger
Scripts : Dynamic Drive
Modification: ariadneLacie
© 2013

Allah Maha Adil.
Written @ 7:02 AM
Allah itu Maha Adil.

.
.

Ya, Allah itu Maha Adil. Ketika suatu ketika kau merasa sedih, sakit hati, hancur, yah pokoknya down sangat, percayalah bahwa Allah akan kembali membawamu ke atas.
Jadi, aku mau cerita sesuatu. (Sebenarnya sekalian flashback...)

.
.


Hari itu tanggal 2 Januari 2013. Tidak ada hal luar biasa yang terjadi, hanya sebuah hari biasa di mana aku diam di rumah, karena hari itu libur.

Hanya saja, ada satu anomali pada hari itu.
Yaitu, Rein ngilang.
Ngilang.
Tanpa kabar, maksudnya.

Dia memang sedang tidak berpulsa, jadi otomatis nggak bisa SMS. Akan tetapi, biasanya paling nggak dia bales mention. Karena jika tidak berpulsa, satu-satunya media komunikasi ya... social media. (Karena dia pengguna handphone yang menggunakan paket, jika pulsa habis, masih bisa pake social media).

Aku yang saat itu tidak mengetahui apa-apa, positive thinking aja. Mungkin lagi ngapain.
Yah, mungkin.

.
.

Keesokan harinya, aku pergi ke luar rumah untuk ngurusin berkas-berkas sekolah. Dia yang sudah kembali dari masa-masa 'diculik alien' alias ngilang-nya, kembali mention aku. Aku pun nanya,

"Cieh kemarin ngilang. Ke mana aja?"
"Ngerayain ulang tahun..."

Seketika, aku terdiam. Rasanya ada sedikit rasa menyengat pada hatiku. Mungkin semacam, retak. Haha, entahlah. Intinya aku langsung merasa sesak.

Aku tahu siapa yang dia maksud.

"Siapa? Dia?"
"Iya..."

Kau tahu? Dengan watados dan santainya dia mengatakan hal itu. Sementara aku di sini, mungkin harus memunguti serpihan hati yang baru saja pecah, sesingkat bagaimana dia mengatakan 'iya'.

Sebenarnya, ini termasuk berlebihan kelihatannya. Apa yang salah dari merayakan ulang tahun seorang teman? Ya, memang ga ada. Akan tetapi, yang salah adalah di hari-hari sebelumnya dia sangat sulit diajak bertemu. Kenapa dia bisa dengan mudahnya merayakan ulang tahun dia, dan menghilang tanpa kabar?

Pernah merasa sebagai prioritas orang padahal bukan? Aku pernah.
Baru saja.

Mungkin aku memang zooplankton baginya. Berada dalam strata terbawah prioritasnya.
Atau malah nggak masuk prioritas sama sekali?

Setelah itu, aku sama sekali nggak ngebales mention dia. Butuh tempat sepi. Sendiri. Daripada aku marah-marah sakit hati, dan mengatakan hal-hal yang akan kusesali nantinya.

Bahkan sampai tak terasa, ada suatu bulir bening yang netes melalui pipiku.

Sakit.

.
.

Langit sudah berganti, seharusnya perasaan juga sudah.
Yang sebelumnya sakit, seharusnya sekarang sudah sembuh.
Yang sebelumnya pecah berkeping-keping, mungkin sekarang sedang berusaha sekuat tenaga untuk bertahan melekat. Apa itu? Hatiku.

Pagi itu, aku sudah kembali membalas mention-nya. Untuk apa marah dan menghilang lama-lama? Yah, dia sudah mention aku duluan setelah aku menghilang juga sudah cukup bagiku.

"Hari ini main yuk."

Aku tertegun sejenak menatap kata-kata yang tertulis di halaman mention-ku. Ajakan main? Apakah ini untuk apologizing padaku? :))

Entahlah. Sepertinya dia bukan tipe orang seperti itu. Eh, nggak tahu juga sih...

"Oh? Tumben."
"Jadi nggak mau...?"
"Hahaha nggak, hayu kok hayu."

Meskipun masih kesal, aku menerima ajakannya. Kami janjian bertemu di Paris Van Java siang nanti.

Sebelum pergi ke sana untuk menemuinya, aku menemui temanku dulu untuk mengambil foto. Sebut saja dia W. Aku bertemu dengannya di sekolah, lalu aku naik mobilnya untuk pergi ke PVJ.

Aku, yang saat itu sudah cukup memaafkan pacarku itu, cukup dikejutkan dengan fakta yang diceritakan W. 

"Harus lihat ini."

Perasaan mulai nggak enak. Akan tetapi, daripada penasaran ga jelas, mending langsung lihat aja kan?

Perasaanku benar.
Seketika aku mual (salah satu sindrom kalo aku udah kesel banget, banget, atau mungkin muak sama sesuatu/seseorang).

Hal yang aku lihat saat itu adalah sebuah foto. Sebuah foto yang berisi pacarku, dan temannya, membawa sebuah kue ulang tahun. Satu-satunya hal yang mengusikku saat itu adalah:

cuma berdua?

Dia cerita, katanya mau ngerayain bareng temen-temen ekskulnya.

Tapi?
Tapi?

Akhirnya, aku cuma menghela nafas aja.

Bahwa manusia bisa tetap menangis walau tanpa air mata. Bahwa hati bisa saja berhenti berfungsi, tetapi tetap nyeri.  -- Aku lupa ini dapet dari mana. Let's just say it's by Anon.

Yaudah. Gakpapa. Gakpapa.
Mau dia gimana-gimana juga, aku tahu dia bakal pulang ke aku.

Itu aja cukup.

.
.

Sesampainya di PVJ, aku ngambil foto. W pulang, terus aku ketemu Rein.

Syukurlah saat itu aku tidak merasakan marah atau apa saat melihat dia.

Yaudah, kami pun jalan-jalan. Beli tiket nonton. Akan tetapi karena filmnya masih lama, kami pun jalan-jalan dulu. Di saat jalan-jalan itu, out of the blue, Rein tiba-tiba cerita tentang 'perayaan ulang tahun'.

"Jadi ceritanya, aku ke rumah dia waktu itu."
"Oh?"
"Iya, jadi ceritanya aku asalnya mau ngerayain bareng temen-temen ekskul yang lain... tapi tiba-tiba semuanya parada ga bisa. Sisa aja aku sama D. Dia jemput aku pake mobil ayahnya, terus kami ke rumah dia..."
"Ooh."
"Ya jadi gitu."

Di saat itu aku heran. Kenapa dia tiba-tiba cerita gitu? Apakah dia tahu aku marah, atau dia tahu aku tahu bahwa dia ke rumah dia?

Akan tetapi, hal itulah yang membuatku ga jadi marah sama Rein. Dia udah jujur, bahkan sebelum aku tanya apa-apa. Rasanya agak terharu juga sih.

Kami pun resmi damai karena hal sederhana yang Rein lakuin saat itu.

Meskipun tanpa kata 'maaf'.
:))

.
.

Kami selesai nonton sekitar pukul 6 sore. Setelah shalat, kami jalan-jalan dulu sambil nunggu Rein dijemput. Rein dijemput di suatu tempat makan di sana, jadi kami pun nunggu di sekitar situ.

Akan tetapi, karena lama, akhirnya kami jalan-jalan lagi. Sampai Rein pun ditelepon, dibilangin kalo udah nyampe di situ. Aku pun nganterin dia ke sana, sekalian mau pamit pulang ke orang tuanya...

Dipikir-pikir, rumahku dan PVJ itu jauh. Apalagi ini udah malem, sekitar pukul 7 malem lebih. Hujan. Sebenarnya sih enggan pulang. Entah kenapa agak seram aja... Yah tapi mau gimana lagi.

Aku pun bertemu dengan ibunya Rein lebih dulu. Salam, terus ngobrol sebentar.

"Yaudah tante, mau pamit ya."
"Oh langsung pulang?"
"Iya..."
"Naik apa?"
"Angkot."
"Angkot? Berani?"
"Iya tante, udah biasa kok..."
"Oh iya? Bener?"
"Iya tante..."
"Ga ikut makan dulu?"
"Nggak usah..."
"Oh yaudah, hati-hati ya."

Sebelum aku pergi, ayahnya tiba-tiba muncul.

"Kenapa ini?"
"Ngga, mau pamit om."
"Pamit? Pulang sendiri?"
"Iya."
"Yaudah ikut makan aja dulu! Nanti dianter pulang."

Ketika itu, kan aku lagi salam. Tangan aku belum dilepas sama ayahnya Rein. Terus, aku ditarik begitu saja. Ditarik. Ditarik.

Gimana mau nolak kalo udah ditarik gitu?

Dengan perasaan campur aduk antara seneng, ga enak, takut, aku pun ikut rombongan keluarga Rein buat makan.

Oh God. Ini pertama kalinya aku makan malam dengan keluarga pacar.

Di luar dugaan, ternyata berjalan lancar-lancar saja. :') :') Terharu.... Terharu....

Setelah itu dilanjutkan dengan keliling-keliling dulu. Aku, Rein, Hans, pergi ke toko CD musik. Sementara kakaknya, ibu, dan ayahnya jalan-jalan lihat-lihat barang. Setelah itu, kami pun berkumpul lagi. Pergi ke tempat parkir. Pulang.

Aku beneran dianter pulang. Sampai depan rumah.

...
Perasaan senang, bersalah, ga enak, merasa merepotkan, campur aduk.

Ya Allah, ga ngerti lagi. Alhamdulillah, keluarga Rein itu welcome sangat padaku.... :''')

Ada kejadian lain lagi, sih.
Setelah sampai depan rumah, aku turun. Rein juga turun, mau pamit dulu ke orang tua aku. Begitu buka pintu, ayah aku yang keluar. Rein salam, terus ayah aku keluar, ketemu ayah-ibunya Rein.
Sementara aku dan Rein, diem di balik pagar sambil natap satu sama lain.

Itu pertama kalinya orang tua kami bertemu.

...
...

Yah, setelah semacam basa-basi dikit, Rein dan keluarga pun pulang.

Intinya, hari itu aku seneng banget, banget, dan ngerasa bersyukur banget, banget.

.
.

Iya, kan? Allah itu Maha Adil.
Di hari sebelumnya, dan sebelumnya, aku ngerasa kesepian, banget. Ngerasa sakit hati, banget, banget. Selanjutnya, semua itu terbayarkan dengan ketemu Rein. Main. Makan malem sama keluarganya. Dianter pulang. Mempertemukan orang tua kami. (?) Pokoknya aku seneng, seneng, seneng banget.

Yah, intinya, jangan pernah berhenti percaya sama Allah. :')

Makasih ya Allah. Makasih Rein. Makasih semuanya.

Ich liebe dich, Hon. My beloved Monsieur. Rein. ♥♥
Semoga keluarga yang makan malem sama aku itu, beneran bakal jadi bagian dari keluarga besar aku. Semoga kita bersama terus, Hon. ♥♥

.
.

p.s. Beberapa nama disamarkan, agar tidak terlalu mem-frontal-kan beberapa pihak.

-ariadneLacie.
-March, 3rd 2013. 

Labels: , ,

Click to Comments! (2) | back to top

------------------------------------------